Sebuah survei global terhadap 81 pengguna AI dari 22 negara menemukan bahwa 89,5% penutur non-Inggris beralih ke bahasa Inggris saat menggunakan AI, dengan alasan akurasi yang dirasakan. Lebih dari sepertiga melaporkan bahwa AI gagal memahami budaya mereka, dengan 63% mengalami pelanggaran norma budaya, termasuk narasi berpusat pada Barat dan tingkat kesopanan yang tidak tepat. Para peserta mengungkapkan kekhawatiran bahwa AI akan semakin memarginalkan budaya mereka, dengan 67% setuju bahwa AI akan mengurangi keberagaman budaya menjadi stereotip di masa depan.